Olimpiade Matematika Tingkat Nasional Terbaik

Bulan September dan Oktober ada dua event, dan di bulan Februari nanti satu event tahunan Olimpiade Matematika Tingkat Nasional Terbaik berdasarkan Ulasan sebagai peserta. Olimpiade tersebut adalah Pemnas UB, Vektor UM, dan OMITS ITS. Kelas yang dilombakan dari jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.

Di bidang olah raga, ketiga olimpiade di atas, berkualitas  seperti Liga Utama Inggris (Premier League) yaitu sebuah kompetisi liga sepak bola profesional di Inggris yang merupakan kompetisi antar klub kasta tertinggi di Inggris. Atau di bulu tangkis, seperti BWF (Badminton World Federation) Super Series yaitu kejuaraan bulu tangkis kelas bintang lima. Di antara kompetisi yang berstatus Super Series adalah Korea Open, Singapore Open, Japan Open, French Open, Australia Open, dan Hongkong Open.

Jadi para pemain yang berlaga di semifinal dan final olah raga tersebut adalah mereka yang terbaik di masanya yang juga menjadi tolok ukur prestasi seorang atlit. Nah, apa hubungannya dengan olimpiade matematika? Jika kalian ingin mengukur prestasi olimpiade matematika, ikuti ketiga olimpiade tersebut untuk mengetahui peringkatnya. Selama ini akurat, semoga semakin baik kualitas dan integritasnya. Simpulan, Olimpiade Matematika Tingkat Nasional Terbaik adalah tiga olimpiade di atas.

Apta sejak kemarin seharusnya berada di Malang acara Vektor UM, tiket ke semifinal sebagai juara rayon telah didapat, tetapi tidak hadir karena banyak pilihan acara [mode; alasan 😉]. Tujuan seseorang mengikuti lomba tidak harus ditarget menjadi juara, mungkin juga untuk mengetahui kemampuan dibanding teman-teman dalam tingkatan kelas yang sama dari sekolah lain. Ibarat kalau kalian akan berenang di sungai yang belum diketahui kedalaman, dites dulu kedalaman dengan melempar batu ke permukaan air sungai, setelah estimasi kedalaman diketahui, kira-kira berani atau tidak berenang di sungai tersebut. Begitu pula dalam lomba matematika, dapat dites kemampuan dengan ikut ketiga olimpiade di atas.

Bagaimana dengan pengalaman mengikuti olimpiade matematika di Universitas di wilayah Jawa Timur yang lain? Menurut pengalaman mengikuti lomba, masih ada banyak catatan negatif, di antaranya diskriminasi syarat pendaftaran, misalkan yang pernah dapat medali emas dilarang ikut, informasi pelaksanaan bersifat tertutup, bahkan susunan acara lomba menjadi rahasia panitia, padahal jika lokasi dari jauh dari tempat tinggal memerlukan rencana perjalanan yang bagus. Masalah kejujuran panitia dan sebagainya menjadi catatan penting, sehingga informasi nama olimpiade tersebut dirahasiakan, disimpan rapat-rapat, agar tidak menjadi fitnah, dan tidak menyinggung perasaan, tidak dibagikan di blog ini.

Merindukan lebih banyak olimpiade berkualitas, masih menjadi mimpi anak-anak Indonesia. Bagaimana mimpi tersebut? Sediakan makanan untuk menemani baca hingga selesai cerpen fiksi berikut ini. Tapi jangan berharap sebagus novel karangan Tere Liye, ya…

Pada suatu hari dialog…

Adik kelas semasa SD sebut saja [AR] dan Apta [AP]

AR: “Apakah kak Apta ikut olimpiade matematika XXX?”

AP: ”Tahun lalu tidak, tetapi pernah ikut sekali ketika kelas 4 dan sampai semifinal”.

AR: “Ahh mau ikut lagi malas, tidak seru karena akan seperti tahun lalu, sudah tahu dua finalisnya pasti dari SD itu”.

AP: “Kalau begitu ayo ikut, nanti ketemu di semifinal ya, mari kita buktikan, masa sih sampai begitu curangnya? Olimpiade ini cara daftarnya beda dari yang lain lhoh… 🙂 Jadi kita bisa tahu cara orang tua kita berkomunikasi zaman dulu sebelum kita lahir. Ternyata cara daftar meniru, copy paste seperti cara mendukung penyanyi di acara TV Akademi Fantasi Indosiar tahun 2003, yaitu melalui SMS ketik_daftar_spasi_xxx lalu kirim ke nomor telepon panitia olimpiade.

Seusai percakapan, dalam hati apa anak ini indigo, kok tahu peristiwa yang akan terjadi”. Prestasi AR ini dari berbagai lomba luar biasa, dia satu-satunya kelas 4, peserta dari 13 provinsi yang masuk babak final Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia yang digelar 8 Oktober lalu di GOR Sidoarjo.

Akhirnya berjumpa AR di acara babak semifinal. Usai makan siang, pukul 13.15 WIB hari itu semifinalis melihat pengumuman finalis di papan pengumuman, dan kalimat yang pernah diucapkan AR benar terjadi, Ya Tuhan. Dua finalis berasal dari SD yang sama dengan tahun lalu. Suasana hati hari itu, marah, malu, sedih, menyesal, merasa mual, dan rasa tidak enak sejenisnya campur aduk, karena telah mengajak adik kelas ikut lomba ternyata yang dikuatirkan terjadi. Orang-orang tertegun mamandang papan, dua finalis tidak punya catatan menjadi pemenang lomba selain di olimpiade XXX, bahkan pernah ikut lomba lain peringkatnya jauh di bawah AR. Olimpiade tingkat nasional yang lain, pada umumnya juara adalah mereka yang pernah punya catatan prestasi di lomba-lomba yang lain.

Sambil duduk di bawah pohon, tidak segera pulang dengan tujuan untuk melihat ekspresi wajah polos anak-anak SD, wajah lesu, bergegas meninggalkan papan pengumuman. Nampaknya, pendamping anak-anak tersebut berbicara menyemangati siswa yang diantarnya. Di antara mereka datang dari nun jauh di sana, bahkan dari luar pulau Jawa, datang dengan suka cita dan bangga mengikuti lomba tingkat nasional. Mungkin sebelum berangkat di antara mereka ada yang didahului acara ritual selamatan, kenduri karena begitu besarnya harapan menjadi juara, ikut lomba ke pulau Jawa. Kalau Apta sudah sering pengalaman dicurangi. Kasihan dengan mereka dicurangi, tapi tidak tahu jika dicurangi, mungkin mereka merasa kurang pandai. Betapa sakitnya di hati. Tragedi sungguh memalukan dan mencoreng dunia pendidikan!!

Objek penelitian menarik dalam ilmu psikologi. Perilaku mahasiswa tega mencurangi anak SD, sangat menarik untuk menjadi objek penelitian di bidang ilmu psikologi. Pada kondisi perilaku manusia normal, hal seperti ini tidak masuk akal, akan muncul pertanyaan, ”Kok tega ya?”. Perilaku tersebut telah berulang, disengaja, dilakukan secara sadar, dan direncanakan. Apa yang menjadi motif, kepuasan apa yang diperoleh, di antara tujuan penelitian yang perlu didalami dalam mempelajari tingkah laku manusia. Pentingnya dipelajari karena jika dibiarkan mungkin akan menimbulkan dampak negatif pada anak-anak (korban) karena seringya dicurangi, berupa trauma psikologis mengikuti lomba, bahkan yang terburuk, mungkin akan membalas curang kelak ketika dewasa.

Di lingkungan lokasi olimpiade, rombongan kami berdoa bersama, “Ya Allah, jangan biarkan hal ini terjadi lagi. Para panitia olimpiade itu nanti akan menjadi guru dari adik-adik kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami, saudara-saudara kami. Maka berikanlah mereka kekuatan untuk selalu menjunjung tinggi kejujuran. Bukalah hati nurani mereka untuk menerima kebenaran. Ya Allah, bukalah hati kami, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan anugerahi kami kemauan dan kekuatan untuk mengikuti yang benar. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhi yang salah. Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun. Engkau Maha mengetahui terhadap kelemahan-kelemahan kami, terhadap kekurangan-kekurangan kami. Oleh karena itu kepada-Mulah kami menyembah, kepada-Mulah kami memohon ampunan dan  kepada-Mu kami pertolongan. Aamiin…”.

Seusai berdoa, kabar dikirim melalui WhatsApp tragedi tersebut kepada para, pendamping, pembina olimpiade yang sering dijumpai di berbagai event. Ternyata mereka sedang di Malang, mendampingi siswanya mengikuti babak semifinal Vektor UM. Komentar atas tragedi,, “Memang integritas lomba itu ya seperti itu”, sebagian dari mereka ternyata sudah tahu, maka anak didiknya tidak dikutkan olimpiade XXX. Isu kecurangan di olimpiade XXX menjadi topik utama diskusi Sabtu hingga Minggu pagi.

Upaya menghampiri panitia dan menyampaikan keluhan dugaan ketidakjujuran pelaksanaan lomba, dengan membocorkan soal babak penyisihan dan semifinal. Dasarnya, dari info yang diterima melalui pesan WhatsApp dari beberapa sumber, soal dibocorkan salah satu panitia melalui ke kerabat yang menjadi guru dari SD asal finalis. Hebat super duper lah jika satu sekolah siswanya mampu menjadi dua finalis untuk olimpiade tingkat nasional karena persaingan ketat sekali. Reaksi panitia, mereka terus-menerus membela diri, membantah, dan berkelit. Mungkin ada beberapa panitia yang merasakan ada kejanggalan, tapi dasar mental penakut, chicken, ayam penakut,   bukan ayam jago, percuma juga diharapkan keberaniannya mengungkap ketidakjujuran. Ya sudahlah… Para pendamping siswa di saat melihat dugaan ketidakjujuran,  sudah berusaha mencegah terulang. Sekedar menggugurkan kewajiban menegur orang yang berbuat tidak baik, urusan mereka sendiri akan berubah atau tidak. 😳 

Tahun depan mungkin ribuan orang masih berbondong-bondong lagi ikuti olimpiade XXX karena tidak tahu kalau ditipu. Satu hal yang pasti, dua juara tingkat SD akan sama dengan tahun sebelumnya. Nama juara memang belum diketahui, karena walaupun dari SD tersebut mengirim kambing pun akan menjadi juara juga.

Karena peserta dan pendamping bukan polisi yang sedang melakukan penyidikan, maka tidak mempunyai barang bukti. Seperti halnya, korupsi, sulit dibuktikan, tetapi gampang sekali diketahui dampak dan gejala telah terjadi korupsi. Dari berbagi pengalaman mengikuti lomba, siapa yang pantas jadi juara, anak-anak hingga orang tua sudah punya prediksi kandidat juara dari setiap event, dengan melihat dari pesertanya.

Agar tidak dianggap sebagai orang kalah yang mencari masalah, maka disampaikan kepada panitia, bahwa keluhan bukan karena ambisi jadi juara, dan menyampaikan sikap, tidak akan ikut lagi olimpiade-nya di tahun-tahun berikutnya, “ora melok ora pathek-en” [ungkapan orang Jawa Timur untuk sikap sangat kesal pada sesuatu tapi sebenarnya akhirnya ikhlas. Pathek adalah panyakit kulit yang sangat mengerikan, bernanah dan bau busuk]. Maksudnya, jika tidak ikut juga tidak akan sakit parah, bahasa gaul, “Emang Gue Pikirin”.

Rombonganku berdiri sejenak, sambil menunggu emosi stabil, melihat orang lalu-lalang yang mengenakan seragam jaket kebanggaan, tapi urat rasa malunya sudah putus, karena pengaruh emosi, cowoknya nampak seperti monster menyeramkan, dan ceweknya seperti karakter hantu di film Pengabdi Setan. Dari balik gedung muncul monster berwarna hijau, menangkap dan melempar monster-monster ke kubangan yang ada di sebelah papan pengumuman. Di samping monster hijau ada karakter tubuh kekar, berambut panjang, tapi terdiam melihat aksi si monster hijau. Ternyata dia kehilangan palu Mjolnir andalannya karena palunya sedang digunakan untuk kompetisi angkat palu. Bukti kompetisi dan siapa pemenangnya, tonton link youtube ini.

Pada suatu kompetisi, siapa yang menjadi juara tidak penting, tetapi bagaimana cara, upaya meraih juara tersebut lebih penting dan menginspirasi. Melihat peristiwa ini siapapun yang berhati baik akan merasa sakit melihat adik-adik tingkat SD, mereka yang niat semangat belajar dan jujur, wajah polosnya, datang dari berbagai kota, tetapi dicurangi. Mereka yang selalu menjaga integritas dan kejujuranlah yang juara.

Memang era digital sekarang ada beberapa orang yang tidak takut dosa karena tidak jujur (curang). Mereka takut jika ketidakjujuran tersebut viral di internet dan mereka di-bully netizen. Mereka tahu kalau Tuhan Maha Pengampun, sedangkan oleh internet/netizen sekali seseorang ketahuan tidak jujur akan dicatat secara digital menjadi abadi serta tidak pemaaf.

Telolet telolet teloleeeeetttt….. Suara klakson bis antar kota yang setiap hari lalu lalang melintas di jalan raya di samping rumah membangunkan dari tidur di hari minggu pagi ini. Lihat kalender di dinding, tanggal 22 Oktober 2017. Belum tanggal 25, jadual film Thor: Ragnarok tayang di bioskop Surabaya. Lumayan dapat cuplikannya dalam mimpi. Reminder acara pukul 09.00 pagi ini adalah undangan dari Kumon di SSCC Pakuwon Supermall Surabaya.

Mimpi pun tentang olimpiade matematika. Ya begitulah mimpinya anak-anak yang suka ikut olimpiade. Kisah yang ditulis ini adalah mimpi, fiksi belaka, bukan di planet bumi bila dilihat di lokasi olimpiade di situ ada Thor dan Hulk. Jika ada kesamaan, kemiripan nama, lokasi, dan peristiwa, sebagian atau seluruhnya dengan yang terjadi sebenarnya dalam hidup anda, jangan baper, Ge Er. Mungkin suatu kebetulan. Jangan japri via email atau sarana apapun tentang pertanyaan, Apakah ini terjadi di dunia nyata”. Ini mimpi. Jangan larang anak-anak Indonesia bermimpi. Surabaya Sidoarjo, 22 Oktober 2017.

Artikel lain yang terkait dengan artikel sedang dibuka:

  1. American Mathematics Competitions
  2. SASMO
  3. Hasil American Mathematics Competition-8 2014
  4. Australian Mathematics Competition 2014
  5. KMNR 9 Tahun 2014