Oo Es En

OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat SD akan dilaksanakan kembali tahun 2015. Seleksi tingkat kecamatan wilayah kota tempat kami sekolah dilakukan pada 4 Nopember 2014. Setiap sekolah mengirimkan wakil pada seleksi OSN 2015 maksimum 5 siswa. Jumlah siswa yang ikut di tingkat kecamatan pada babak penyisihan lebih dari 300 siswa. Kemudian diambil 20 siswa dengan nilai tertinggi yang kemudian dari 20 siswa tersebut dites untuk menentukan 10 siswa yang nilainya tertinggi tingkat kecamatan. 10 siswa nilai tertinggi tingkat kecamatan akan mendapat bimbingan/pelatihan OSN selama beberapa bulan dengan frekuensi 2x seminggu, dari pukul 07.15 hingga pukul 12.30.

Sekolah kami mengirimkan 5 siswa bidang studi matematika dan 4 siswa berhasil masuk 10 besar tingkat kecamatan. Kata ustad (g*r*) kami, Apta menempati peringkat 1, bagi Apta prestasi tersebut biasa saja, karena cuma tingkat kecamatan… Dengan demikian kami berempat (Almas, Apta, Iban, dan Rendy) akan meninggalkan jam pelajaran sekolah 2x seminggu sejak Bulan Desember 2014 hingga Maret 2015. Pengorbanan yang besar atas sesuatu yang hasilnya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Profil prestasi teman-teman peserta seleksi OSN dari sekolah kami di antaranya Almas, Iban, dan Rendy meraih medali dua kali di Kompetisi Matematika Nalaria Realistik 8 dan 9, dan masuk babak semifinal pekan matematika Universitas Brawijaya. Almas dan Rendy juga teman sekelas kami yang ikut IMC 2013 di Singapura. Almas tahun 2013 menjuarai Fakhruddin Ar Razi Competition di Bogor. Kami pernah berprestasi di lomba-lomba tingkat nasional, namun ketika yang kami lawan adalah g*r*-g*r* yang curang seperti di seleksi OSN tahun lalu, semua pengalaman dan prestasi menjadi tidak berarti. Kami sering ikut lomba dan kalah tidak meraih juara, tetapi ketika kalah karena dicurangi perasaan kami belum siap menerima.

Hari-hari dalam empat bulan ke depan akan berat bagi kami untuk melewatinya karena adanya bimbingan OSN tadi. Kami sangat menghargai inisiatif pihak Dikbud yang membimbing kami latihan mengerjakan soal-soal OSN. Yang tidak kami hargai adalah seleksi akhir yang tahun lalu “seleksi-seleksian”.

Kami sekeluarga sebenarnya kurang tertarik dengan OSN 2015 karena tragedi (kisah sedih) awal tahun 2014. Kami geram melihat orang yang tingkah lakunya curang tapi tampang wajahnya tidak merasa bersalah (innocence). Kami berniat tidak mengikuti kegiatan yang di dalamnya ada perbuatan curang. Kami berhenti ikut lomba di tingkat kabupaten, sikap kami ikut lomba yang dilaksanakan oleh lembaga yang di luar kabupaten saja. Namun pada OSN tahun ini sekolah kami mengirimkan ikut seleksi tingkat kecamatan, kami ikuti saja. Tragedi tersebut menjadi kenangan buruk dalam keluarga kami.

Semula kami sekeluarga menghormati keputusan dewan juri yang mengirim nilai terbaik kabupaten ke tingkat provinsi. Wah ternyata banyak anak-anak pandai yang selama ini tidak muncul. Tetapi ketika nilai di tingkat provinsi sangat rendah, menduga anak yang tersebut mendapat bantuan dalam menjawab soal.

Apta pernah ikut lomba tingkat nasional dan internasional, dari perolehan medali dan sertifikat artinya diakui oleh lembaga penyelenggara sebagai anak yang punya kompetensi bidang sains. Ketika di tingkat kabupaten medali dan sertifikat tersebut tidak diakui, yaitu dengan mengirim peserta OSN yang belum pernah ada catatan prestasi tingkat provinsi, tindakan tersebut merupakan penghinaan bagi keluarga kami.

Tahun 2014, seleksi OSN yang mewakili tingkat kabupaten adalah 3 peserta nilai tertinggi yaitu 1 (600), 2 (500), 3 (425,5). Dugaan kami, bahwa peserta nilai tertinggi 1,dan 2 mendapatkan bocoran soal dan jawaban. Indikasinya nilainya sempurna (peserta lain nilai pecahan), sedangkan ketika di tingkat provinsi mendapat peringkat nomor 113 dari 114 peserta serta tidak pernah tercatat memenangkan lomba lain di tingkat provinsi maupun nasional. Maklum kuota wakil tiap kabupaten hanya 3 siswa sedangkan ada banyak g*r* yang ingin siswanya ikut OSN (bukan banyak siswa yang ingin ikut OSN, karena kami yakin tidak ada siswa SD yang berfikiran curang hanya demi OSN).

Siapa pun yang mewakili sebaiknya tidak memalukan daerah asal kabupaten pengirim peserta Olimpiade. Masa mengirim peserta yang tidak bisa mengerjakan soal, bukankah sebagai tolok ukur prestasi daerah asal peserta sekaligus prestasi bapak/ibu g*r* kita dalam mendidik anak, menyampaikan ilmu di sekolah. Bukankah malu jika anak yang dikirim menempati peringkat terbawah karena tidak dapat menjawab soal. Tapi sayangnya jika nilai peserta OSN suatu daerah mendapatkan nilai nol sekalipun bukan masalah, dari tahun ke tahun selalu begitu. Tidak ada pertanggung jawaban ke siapa pun. Padahal mestinya cerminan suatu daerah, jika yang dikirim adalah siswa yang paling pandai saja nilainya, mendekati  nol, lalu anak-anak yang lain akan mendapat nilai berapa?

Pertanyaan besar di artikel ini adalah, “kenapa kami harus bimbingan beberapa bulan, toh nanti siswa yang dikirim ke tingkat provinsi adalah siswa yang telah ditentukan yaitu yang diberi bocoran soal dan jawaban?”

Tragedi seleksi OSN tingkat kabupaten 2014, karena peristiwa tersebut tidak bermoral, memberi inspirasi keluarga kami untuk menceritakan ke pihak Dikbud, barangkali peristiwa tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Ternyata tanggapannya biasa saja, datar-datar saja, sesuatu yang tidak penting untuk dibahas. Ya sudah lah… Jawabannya membuat kami KO (Knock Out). Kutipan ringkas jawaban dari Dikbud Provinsi (Jl. Gentengkali Surabaya), “Pelaksanaan OSN sudah jujur, tidak ada yang curang. Meskipun pernah menang di lomba lain, belum tentu bisa ikut OSN karena OSN soal-soalnya lain”. Jawaban dari Dikbud tingkat kabupaten, “Semua sekolah berhak menang dalam seleksi OSN. Tidak diarahkan menang sekolah tertentu”.

Pembuktian jujur atau curang gampang sekali kok. Anak-anak peserta seleksi OSN tahun lalu diuji oleh pihak yang netral dan dipercaya kejujurannya. Nanti akan diketahui siapa yang benar-benar pintar dan mana yang kurang pintar, dapat diketahui peringkatnya. Toh mereka semua mudah ditemui dan siap kapan pun di sekolahnya. Daripada menjadi kenangan buruk anak-anak di dalam hidupnya.

Jika budaya pembocoran soal ketika seleksi OSN dipertahankan, sampai kapan pun tidak akan menang di tingkat provinsi maupun nasional, karena yang mewakili adalah bukan siswa paling pandai sekabupaten. Dampak lainnya karena kabupaten yang bersangkutan tidak pernah punya catatan siswa berprestasi, oleh pihak Dikbud, tidak akan diundang seleksi International Mathematics and Science Olympiad (IMSO).

Kembali ke tema OSN. Kenapa bapak ibu g*r* kita rela berbuat curang demi OSN? Kenapa pula g*r*-g*r* yang lain melihat kecurangan diam saja? Melihat kondisi seperti itulah yang membuat kami tidak bernafsu ikut OSN. Masih banyak lomba yang lebih bermutu dan jujur.

Di awal tahun 2015 Apta ikut beberapa lomba matematika tingkat nasional dan internasional, yang telah daftar sejak Nopember lalu. Maka dari itu, OSN 2015 tidak menjadi prioritas untuk diikuti. Apta tidak akan jatuh di OSN dua kali karena keledai saja takkan pernah jatuh dua kali pada lubang yg sama. Jika karena ijin tidak ikut bimbingan OSN tingkat kecamatan ketika hari tersebut ikut lomba-lomba lain lalu Apta dikeluarkan/diskualifkasi dari kesempatan ikut OSN, juga tidak apa-apa (#Aku Rapopo).

ANIESFoto di atas baju Adat Yogyakarta, ketika masih sekolah di Al Azhar 31 Yogyakarta di lomba tingkat nasional yang medalinya dikalungi oleh Anies Baswedan. Sekarang era presiden baru, menteri pendidikan baru, kami berharap tidak ada lagi kecurangan di dunia pendidikan. Jika masih ada kecurangan, ketika cara lain telah tertutup, tidak direspon dengan baik, rencana yang akan kami lakukan adalah menceritakan kepada orang yang mengalungi medali di atas. Yaitu mention ke akun Twitter: Anies Baswedan.

Artikel lain yang terkait dengan artikel sedang dibuka:

  1. Peraih Medali OSN 2015 SD
  2. Memilih Sekolah Berintegritas
  3. Hari Keempat IMC Singapura
  4. Motherboard – Komputer Rakitan
  5. Prize Giving IMC